Gelora Bung Karno

Tidak harus menunggu libur panjang untuk mengajak keluarga jalan-jalan ke jakarta

www.bandung-catering.com

Pusat layanan catering wilayah bandung. Melayani berbagai macam kebutuhan catering dengan sajian menu istimewa harga keluarga

Bahagiakan Keluarga

“Dunia adalah kesenangan sementara, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim)

Rajanya konveksi

Rajanya konveksi bandung, segala kebutuhan konveksi anda akan terlayani dengan harga murah berkualitas. hanya ada di www.rajakonveksi.com.

Ajari anak shalat

"Dan perintahkanlah anakmu untuk shalat dan untuk bersabar di atasnya."

Jumat, 23 Desember 2011

Menanti Momentum


Perbaikan diri merupakan keniscayaan bagi setiap insan yang ingin selalu meningkatkan kualitas hidupnya. Dari waktu ke waktu dan pada setiap pergantian masa selalu menghadirkan tantangan hidup yang lebih berat. Untuk bisa selalu eksis dengan segenap potensi yang dimiliki, maka mutlak dibutuhkan peningkatan kemampuan untuk berkompetisi. Tanpa peningkatan itu kita akan jauh tertinggal di lembah keterbatasan dan tak akan mampu menembus kokohnya tembok persaingan.

Setiap perubahan semestinya bisa dilakukan kapan saja dimana saja dan dalam moment apapun. Namun demikian pada saat yang lain perubahan itu bisa jauh lebih powerful jika dilakukan pada sebuah moment yang tepat. Kekuatan itu lebih dipengaruhi oleh sikap mental dan motivasi yang kuat karena dorongan ataupun tarikan yang muncul dari sebuah moment yang mempengaruhinya.

Saat kita sedang tertekan karena ketidak seimbangan cash flow dalam keuangan rumah tangga ataupun perusahaan yang menjadikan goyahnya tatanan nilai yang sudah berjalan baku. Maka saat itulah muncul motivasi tinggi untuk membalikkan keadaan, itulah momentum kebangkitan kita.

Kesempatan yang lain mengantarkan kita pada satu masa dimana usia kita bertambah yang ditandai oleh pergantian tahun ataupun perjumpaan dengan tanggal dan bulan dimana kita dahulu dilahirkan. Untuk kesekian kalinya waktu-waktu tersebut juga bisa menjadi momentum dimana kita dituntut untuk lebih baik dari hari sebelumnya.

"Barang siapa yang keadaan amalnya hari ini lebih jelek dari hari kemarin, maka ia terlaknat. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia termasuk orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia termasuk orang yang beruntung." (HR. Bukhari)

Setiap kita pasti punya memori tersendiri yang mengabadikan kenangan pahit, getir dan berujung manis dari sebuah perjalanan hidup yang kemudian melekat erat dalam ingatan kita, dan setiap saat kita mengingat peristiwa itu memunculkan kembali kekuatan luar biasa yang bisa menjadi stimulant setiap kita merasa lelah dan menyerah oleh sebab tantangan masa depan yang semakin berat. Maka ciptakanlah sebanyak mungkin moment istimewa yang suatu saat nanti bisa kita kenang dan akan membangkitkan gairah kita disaat jiwa merasa hampa, masa depan terlihat suram dan seluruh sendi yang mengerakkan tumbuh kita terasa lemah.

Kini kita sedang mendekati penghujung tahun, silih berganti memori perjalanan kita dalam satu tahun terakhir ini kita kuak untuk bisa melihat secara detail setiap persoalan yang menghambat gerak langkah dan mengumpulkan point demi point yang bisa menjadi amunisi dalam setiap kita menghadapi musuh terbesar dalam diri kita.

Beberapa hari ke depan akan menjadi saat-saat terakhir kita bersama tahun 2011. Kita akan segera menutup buku tahunan dan memulai langkah baru bersama tahun 2012 yang sudah siap menanti. Seberapa banyak kita mampu mengumpulkan kredit point dalam rekening integritas kita, maka itu akan menjadi saldo awal yang sangat berarti dalam menentukan sejauh mana kita akan melesat di tahun yang akan datang.

Jejak langkah kita di tahun 2011 sudah hampir tetutup rata, dan kita tidak mungkin lagi untuk bisa mengais serpihan waktu yang terbuang sia-sia sepanjang perjalanan ini. Yang bisa kita lakukan adalah mentelaah lebih mendalam atas rekam jejak langkah kita dengan evaluasi diri. Mensyukuri setiap capaian dalam genggaman dan mencanangkan harapan masa depan menjadi agenda pergantian tahun. Semoga tahun demi tahun yang kita lalui menjadikan kita semakin dewasa dan membawa keberkahan dalam kehidupan.



Minggu, 11 Desember 2011

Achievement


Semua orang butuh bekerja meskipun tidak semuanya butuh pekerjaan. Bekerja lebih bersifat aktivitas yang dilakukan untuk menyelesaikan suatu persoalan. Sementara pekerjaan lebih di identikkan oleh kebanyakan orang sebagai aktivitas mencari nafkah. So.. apapun definisinya namun ada sebuah kesamaan bahwa keduanya adalah aktivitas untuk mengaktualisasikan diri sesuai dengan kapasitas yang dimiliki.

Namun yang jadi masalah jika aktivitas yang dikerjakan dirasa berat dan selalu muncul keluhan capai bahkan sebelum perkerjaan itu sendiri beres. Akibatnya apa yang dikerjakan tidak menjadi maksimal, yang penting usai sudah kewajiban dilaksanakan.

Sebenarnya berat dan ringannya suatu pekerjaan itu bukan ditentukan oleh jenis pekerjaannya, tapi lebih pada sejauh mana cara kita menikmati pekerjaan itu.

Contoh, berat manakah antara pekerjaan kasir dan pekerjaan sales. Dibandingkan dari sisi aktivitas fisik dan pemikiran yang dibutuhkan maka pekerjaan kasir jauh lebih ringan. Akan tetapi bagi saya pekerjaan kasir dan duduk dikantor justru berat dan membosankan, dan bagi para pebisnis aktivitas pemasaran dan pekerjaan di lapangan justru jauh lebih menyenangkan. 

Contoh lagi, sejauh manakah beratnya bangun jam 3 pagi untuk mengerjakan shalat tahajud?
“haroream eui”, kata orang sunda. Sementara orang jawa menimpali “abot tenan, angel nak ra kulino”.
Pada hal jika kita amati disekeliling kita, para pedagang pasar jam 2 pagi sudah berangkat dengan barang dagangannya. Bolamania juga masih begadang menyaksikan industri bisnis dalam permainan bola. Kalau mereka yang beraktivitas fisik yang lebih berat bisa melakukan secara rutin, mengapa kita beraktivitas ruhani dan hanya membutuhkan kemauan saja tidak bisa melakukannya?

Disinilah pentingnya seni menikmati pekerjaan, Achievement dalam kita mengerjakan sesuatu sehingga semua pekerjaan terasa ringan. Sekali lagi motivasilah yang menentukan berat dan ringannya sebuah pekerjaan.



Senin, 07 Februari 2011

Nasib Bisnis di Tangan Cash Flow

Banyaknya orang gagal dalam bisnis ketika tidak mampu mengelola keuangan dengan baik. Boleh jadi ordernya  banyak dan omsetnya besar, namun hal itu tidak cukup menjadi jaminan bahwa bisnis yang dijalankan akan bertahan dan berkembang. Pengelolaan keuangan menjadi sangat penting karena bermula dari situlah semua strategi bisnis akan bisa di jalankan sesuai dengan planningnya. Sebagai seorang pengusaha kita harus rajin-rajin mengecek ‘kesehatan” keuangan, hal itu bisa di deteksi dari: Balance Sheet (neraca keuangan), Income Statement (Laporan Laba Rugi) dan Cash Flow (Laporan arus kas). 

Cash flow harus mendapat perhatian yang intensif, karena ibarat tubuh manusia aliran kas adalah darah segar yang mengatur distribusi “vitamin” dalam bisnis kita. Dari arus kas kita akan melihat produk mana saja yang mendapat rating paling tinggi dan produk mana yang marginnya paling tinggi. Dari situ pula kita akan mengetahui tipologi para konsumen yang memberi kontribusi besar dalam bisnis kita, juga sebaliknya kita akan mengetahui konsumen mana yang justru hanya menjadi batu sandungan usaha.

Langkah berikutnya baru bisa kita ambil ketika analisa terhadap arus kas di lakukan. Segmentasi pasar atau segmentasi produk adalah bagian dari pilihan solusi yang bisa dikembangkan lebih terinci lagi. Apalah artinya omset gede tapi pembayaran lambat bahkan beresiko ngemplang. Tidak maksimal pula ketika margin keuntungan tinggi namun resikonya juga jauh lebih tinggi lagi. Fokus pada produk yang kecil namun banyak diminati mungkin pilihan yang jauh lebih bijak ketika kita ingin mempertahankan eksistensi cash flow. 

Menyiasati arus kas agar selalu mengalir dengan lancar bisa dilakukan dengan penerapan sistem pembayaran yang jelas dan disiplin. Jangan biarkan tunggakan konsumen berlarut tanpa ada follow up secara berkala. Kelengahan kita dalam membiarkan keterlambatan jatuh tempo pembayaran akan semakin menjadikan posisi semakin sulit. Aturlah strategi yang bijak sehingga konsumen tidak tertekan dan arus kas kita bisa terselamatkan.

Dalam menentukan bisnis yang cocok untuk kita jalani perputaran arus kas juga harus menjadi pertimbangan yang cermat. Jika modal kita terbatas dan relasi juga kurang luas, maka pilihlah bisnis yang cash flow nya harian. Artinya bisnis yang menjual barang atau jasa sekali bayar tanpa ada orang ngutang, juga jual beli yang tidak mengharuskan kita menyimpan stok barang yang banyak. Bisnis apakah itu? Fast food dengan aneka pilihannya bisa anda coba. Namun jika anda suka tantangan pilihlah bisnis besar meskipun cash flownya bulanan, karena di balik tantangan itu selalu ada peluang besarnya.

AB Subranto


Sabtu, 05 Februari 2011

Golongan MuhammadiNU

Jika kita bicara Islam di bumi nusantara ini tentu akan selalu di kaitkan antara golongan Muhammadiyah atau NU. Seolah-olah hanya ada dua ormas itu dinegeri ini, sehingga pertanyaan yang sering kali muncul “kumu orang Muhammadiyah atau NU?” 

Muhammadiyah yang menyebut sebagai organisasi terbesar di Indonesia patut bangga karena kader-kader terbaiknya mampu mengisi semua lini kehidupan bermasyarakat. Bahkan jauh sebelum itu Muhammadiyah juga turut andil besar dalam perjuangan mendeklarasikan kemerdekaan Negeri ini. Amal usaha Muhammadiyah hingga saat ini bisa di bilang paling besar dalam memberi kontribusi untuk kemajuan bangsa di banding dengan organisasi lainnya. Setidaknya itulah yang bisa di rasakan oleh masyarakat dengan berdirinya Sekolah Muhammadiyah di seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Pada tahun 2009 jumlah sekolah sejak tingkat Dasar sampai Menengah Atas, berjumlah 7.307. Jumlah itu masih ditambah lagi Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sebanyak 168. Jumlah Rumah Sakit/ Balai Pengobatan sebanyak 389 buah.Jumlah BPR/BT sebanyak 1.673. Jumlah Masjid sebanyak 6.118, sedang jumlah Musholla sebanyak 5.080 buah. Adakah capaian dari organisasi lain yang bisa menyamai rekor Muhammadiyah itu?

NU juga tak kalah besar, seperti halnya Muhammadiyah organisasi NU juga berdiri di seluruh pelosok negeri ini. “bersaing” dengan muhammadiyah, NU juga memiliki cabang kepengurusan di belahan benua lainnya di Dunia ini. Pantaslah jika NU memplokamirkan diri sebagai organisasi terbesar di Dunia.  Pada tahun 2009 tercatat ada 14.067 Pondok pesantren NU yang tersebar di seluruh Indonesia. Inilah kelebihan NU yang begitu luar biasa dan tidak dimiliki oleh organisasi lainnya.

Saya bangga lahir di kalangan Muhammadiyah, setidaknya kunjungan Pengurus Cabang Muhammadiyah setiap bulan Ramadhan di masjid kami cukuplah untuk menyimpulkan bahwa kami adalah warga persyarikatan Muhammadiyah. Meskipun pada saat yang sama para pengurus masjid kami masih rutin menyelenggarakan Yasinan –NU- setiap kali ada momentum tertentu. Menginjak remaja jiwa Muhammadiyah benar-benar masuk dalam jiwaku, karena ketika di Sekolah Muhammadiyah aku belajar Kemuhammadiyahan. Saat itu aku merasa telah masuk pada golongan surga sementara yang lain adalah golongan bid’ah, sesat, dan ujungnya adalah neraka. Dalilnya jelas : 

“Amma ba’du. Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah) dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim no. 867)
“Setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR. An Nasa’i no. 1578. Hadits ini dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani di Shohih wa Dho’if Sunan An Nasa’i)
Ajaran Muhammadiyah ingin memurnikan kembali Islam dengan menghapus Taklid, Bid’ah dan Churofat (TBC). Penyakit TBC itu telah menjangkit akut di seluruh lapisan masyarakat oleh karena itu butuh kerja keras untuk bisa menghapusnya. Jika seperti yang dikatakan Muhammadiyah bahwa Yasinan, Tahlilan, Selametan dan berbagai ritual lainnya adalah sesat, akan bertolak belakang tentunya dengan pemahaman NU.
Dalil orang-orang NU membaca surat Yasin ini adalah, pertama dalam hadits riwayat Nasa'i bersumber dari Ma'qal bin Yasar al-Muzan mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda:
Bacalah surat Yasin di samping saudaramu yang sedang sekarat.”
Hadits ini juga berlaku bagi yang masih hidup untuk membacakan Yasin untuk yang sudah meninggal. Persis seperti sabda Rasulullah: Laqqinu mautakum La ilaha illallah (Tuntunlah orang mati dengan kalimat La ilaha illallah). Dan termasuk dalam hadits ini adalah bacaan Yasin di atas makam. (Demikian penjelasan dalam kitab Kasyifatus Syubhat, hlm. 263)
Oke. Saya gak perlu beradu dalil disini, karena antara keduanya mempunyai dalil yang diyakini masing-masing dari mereka paling kuat. Lagi pula aku tak ada kapasitas disini untuk membahasnya. Jalani apa yang anda yakini maka itulah yang terbaik untuk anda.
Saya hanya ingin melihat diri sisi sosial kemasyarakatannya. Bahwa dikalangan warga Muhammadiyah dan NU masih banyak yang begitu fanatik dan memandang remeh golongan yang lainnya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami ketika melihat orang di luar Muhammadiyah seperti calon-colon penghuni neraka karena kesesatannya. Lambat laun pemahaman itu makin berkurang dan pudar seiring dengan pergumulanku bersama orang-orang NU saat menimba ilmu di padepokan Sunan Kali Jaga Jogjakarta. Jika di kampus lain kita akan menjumpai PMII (organisasinya mahasiswa NU) minoritas maka di UIN suka (sunan kalijaga) PMII menjadi mayoritas yang menguasai Senat Mahasiswa.
Persepsi saya tentang golongan lain menjadi semakin lunak ketika mulai beranjak dari jogja. Begitu memasuki bumi Andalas ternyata tak banyak jejak Muhammadiyah disana, demikian pula kondisi tatkala tinggal di Kepulauan Riau. Sekolah, kampus, klinik dan Rumah Sakitr di sana mungkin cukup untuk menggambarkan keberadaan Muhammadiyah yang merata, namun semua itu tidak mewakili jumlah warga Muhammadiyah yang berada di tempat yang sama.
Jika khunut cukup dijadikan dasar untuk menyebut bahwa itu adalah amalan NU, maka di Pekanbaru, Batam, Tanjung Pinang, dan Bandung yang pernah saya tinggal disana belum pernah saya mengikuti shalat subuh tanpa khunut. Jadi sangat sulit bagi saya untuk menemukan jejak Muhammadiyah hingga di gang-gang kecil atau perumahan tempat masyarakat sesungguhnya berada. Jika penetapan Hari raya juga cukup untuk membedakan mana itu Muhammadiyah dan mana NU, maka di tempat yang sama saya sebut tadi mayoritas tidak mengikuti Muhammadiyah.
Lalu apakah mereka semua adalah warga NU? Kalau mengambil tolok ukur yang lainnya lagi tidak secepat itu pula kita mengatakan mereka orang NU. Karena banyak juga diantara mereka yang tidak lagi mengamalkan yasinan, jika itu syarat untuk menjadi warga NU. Artinya sebagian masyarakat tidak lagi terlalu peduli mereka sebagai orang NU atau Muhammadiyah. “saya orang islam” kata mereka singkat untuk tidak mau di katakan sebagai orang Muhammadiyah atau NU ataupun juga golongan lain. Artinya ada kesadaran yang tinggi di kalangan masyarakat untuk menjunjung tinggi kebersamaan tanpa terkotak-kotak oleh perbedaan golongan. Okelah organisasi seperti NU dan Muhammadiyah sangat di butuhkan untuk memajukan masyarakat, namun jauh lebih penting lagi jangan sampai perbedaan organisai justru memecah belah umat. Masyarakat selalu mendukung kedua organisasi itu, nyatanya setiap kali ada pengajian mereka juga berbondong bondong hadir tanpa harus melihat itu di selenggarkan Muhammadiyah atau NU. Apalagi keberadaan Muhammadiyah dan NU memang sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Saya jadi ingat kisah salah seorang teman yang begitu tidak suka dengan Muhammadiyah, dia lebih memilih memasukkan anaknya ke sekolah yayasan umum yang letaknya jauh dari tempat tinggalnya dari pada masuk sekolah Muhammadiyah yang berdekatan rumah. “Emang nanti kalo sakit tak mau pula masuk PKU Muhammadiyah?” gumamku dalam hati. Ada juga orang muhammadiyah yang memilih shalat jamaah jauh di luar tempat tinggalnya, karena di masjid perumahannya kebanyakan orang NU. “emang nanti kalo dah mati sapa yang nyolatin kalo bukan tetangganya yang NU?” jangan sampai segitunya lah kawan. Kita semua itu saudara, sama-sama muslim. Alangkah indahnya negeri ini jika di bangun dalam kebersamaan. Pada kenyataannya banyak warga Muhammadiyah yang mengikuti amalan NU seperti yasinan, tahlilan dan lain sebagainya. Dan begitu pula sebaliknya, banyak pengikut NU yang menyekolahkan anaknya ke sekolah Muhammadiyah. Dan semua itu juga berjalan dengan baik, jadi apa yang harus di persoalkan.
Kadang banyak orang yang sibuk memperdebatkan khilafiyah, sebuah berbedaan yang sangat berpotensi multi tafsir. Tapi mereka seolah menutup mata dengan persoalan nyata yang ada. Ambil contoh misalnya, mereka sibuk memperdebatkan doa setelah shalat. Satu pihak mengatakan gak boleh sambil angkat tangan, do’a cukup dengan lisan bahkan dalam hati pun tetep akan sampai. Pihak yang lain mengatakan mengangkat tangan itu perlu jaman nabi juga begitu. Tapi di luar sana anak-anak mereka yang beranjak dewasa dengan bebasnya saling berpegangan tangan dengan lawan jenis, pada hal itulah yang jelas-jelas haram. Mereka sibuk memperdebatkan berapa nishob sihingga seseorang di katakan wajib zakat, sementara di luar sana orang-orang yang kurang mampu sudah tak sabar menunggu uluran tangan kita. Mana yang baik ayolah kita amalkan, tak usah pedulikan itu di tuntunkan Muhammadiyah atau berdasar fatwa NU.
Saya jadi ingat ketika dahulu kala KH. Abdurrahman Wahid naik tahta berkat jasa Prof. Dr. Amin Rais, sering kali di adakan seminar dan pertemuan antara Muhammadiyah dan NU. Temanya tentu saja membangun kebersamaan dan mencari titik temu kesamaan bukan menonjolkan perbedaan. Sejarahpun di kupas, mulai dari perbedaan yang muncul dari kalangan shahabat, Tabi’in, tabi’ut tabi’in hingga para ulama besar yang dengan kebesaran hati mereka mampu menyikapi perbedaan. Kesimpulannya tentu saja ada persamaan yang bisa lebih di tonjolkan dari pada harus direpotkan dengan perbedaan yang ada.
Kini saya membayangkan alangkah indanya jika berbagai seminar itu kembali di adakan bahkan bisa menghadirkan dari berbagai golongan yang lainnya. Bolehlah kita terkotak dalam berbagai organisasi, tapi bukan berarti kita harus saling membenci dan saling menjatuhkan satu sama lain. Boleh juga kita bangga dengan apa yang kita yakini dalam organisasi atau golongan yang kita ikuti, tapi jangan sekali-kali mengatakan bahwa kelompok yang lain adalah sesat dan tempatnya neraka.  Emang neraka milik lo?
Jika Muhammadiyah adalah organisasi terbesar di Indonesia sementara NU memplokamirkan diri sebagai organisasi terbesar di Dunia, berarti MuhammadiNU adalah organisasi terbesar di dunia dan Akhirat, Amiin. Wallahu a’lam bishowab.
 AB Subranto
www.kakilangit.co.id
 

Sabtu, 22 Januari 2011

Kota Tanpa Nama Jalan

Jika anda berkunjung ke kota Batam jangan sekali-kali bertanya nama jalan, karena banyak orang yang tak tahu nama-nama jalan di kota terbesar di provinsi Kepulauan Riau ini. Aneh memang, tapi itulah kenyataannya. Kota yang pada waktu di bangun tahun 1970 hanya berpenghuni sekitar 6.000 jiwa ini, kini menjadi daerah dengan tingkat pertumbuhan terpesat di Indonesia. Tahun 2010 jumlah penduduknya 949.775 jiwa, tumbuh hingga 170 kali lipat dalam kurun waktu 40 tahun. Jumlah ini memang masih lebih sedikit jika di banding dengan kota terdekat di Sumatra seperti Palembang, Pekanbaru, Padang, ataupun Medan. Tapi soal perekonomian tak perlu di ragukan lagi, setidaknya kota Batam telah menjadi tujuan migrasi paling besar. Konon di kota Batam ini 30% penduduknya pendatang dari jawa, 30% dari sumatera, 30% dari berbagai daerah yang lainnya dan sisanya 10% adalah penduduk asli yang tinggal di pulau-pulau kecil, orang bilang penduduk hinterland.

Oke, kembali ke soal jalan tadi. Di Batam hampir tidak ada bangunan yang persis berdiri di pinggir jalan seperti di kota lain yang kadang kala rumah-rumah harus di gusur untuk pelebaran jalan. Jarak antara jalan dengan bangunan minimal cukup untuk area parkir, bukan kok parkirnya kendaraan menggunakan ruas jalan. Inilah yang barang kali menjadi sebab tidak familiernya nama jalan di kota ini. Orang lebih mengenal komplek pertokoan atau komplek perumahan apa dan nomornya berapa. Seperti waktu kemarin ada kawan nanya jalan Jend. Sudirman, wah jangankan aku yang hanya beberapa tahun di Batam, orang yang sudah puluhan tahun di Batam saja aku Tanya tak tahu pula. Yang pasti jl. Jend sudirman di pusat kota, mungkin itu cukup menjadi clue untuk pencarian berikutnya. Karena tak mungkin nama Jl. Jend. Sudirman kok di pinggiran kota atau jalanan kecil, PKI yang bikin nama jalan baru mungkin.

Di setiap ujung jalan atau persimpangan memang terpampang nama-nama jalan, tapi orang pada males baca kali ya. Pak pos pun kalo harus nganter surat sementara yang tercantum nama jalan tanpa menyebut kompleknya  bisa jadi juga akan kebingungan. Lihat aja coba di epapernya Batam pos, tak ada iklan kok nyebutin nama jalan, yang ada ya nama kompleknya. 


So, kapan kalian main ke Batam mampir juga lah ke Kaki Langit di Central Sukajadi. Kami memang tak menyediakan oleh-oleh di sini, tapi ya mana tahu kita bisa berkawan kata orang melayu.

AB Subranto

Jumat, 21 Januari 2011

REAL ESTATE – RULI ESTATE

Kemegahan sebuah kota besar tentu tidak akan lengkap tanpa berdirinya Real Estate. Apasih sebenarnya Real Estate itu? Kebanyakan orang berpersepsi bahwa real estate adalah sebuah kawasan perumahan mewah yang berada di lokasi yang strategis, sehingga begitu orang lewat akan melihat kemegahan bangunannya yang tinggi dan berpagar besi. Semakin tertutup lagi ketikadiatas pagar tembok di pasang jeruji besi tajam atau pecahan kaca. Begituorang bertamu ke rumah itu akan disambut oleh si satpam berkaki empat tanpa seragam, uniknya jika yang datang berpakaian kumuh dengan  karung di panggulnya si penjaga pintu akan menyalak huk..huk.. - hiii.

Apa persepsi orang tentang real estate diatas salah? Gak juga sih, cumin terlalu sempit. REAL ESTATE berasal dari Bahasa Inggris, yang asal katanya berasal dari bahasa Spanyol. REAL = ROYAL = kerajaan. (makanya Real Madrid menjadi klub yang paling royal membeli pemain dan menggajinya, he..he..) REAL ESTATE = adalah sebagai suatu kawasan tanah yang dikuasai oleh raja, bangsawan dan landlord (tuan tanah pada jaman feodal diabad pertengahan), atau singkatnya properti milik kerajaan. (lihat : “The Cash Flow Quadrant” by Robert T Kiyosaki halaman 146).
Ini hari kedua aku kembali menjenguk batam, setelah terakhir kali setahun yang lalu aku bisa berziarah di tanah yang menjadi ‘peristirahatan’ terakhir dan tenang anakku yang pertama. Kondisi kota batam tentu sangat beda dengan setahun yang lalu, Real estate sudah semakin menjamur di kota seribu pulau ini. Salah satunya Mall kepri di pintu masuk komplek The Central Sukajadi tempat KAKI LANGIT bermarkas menjadi bukti bahwa Batam adalah kota besar.
Namun di balik semua kemegahan itu, seperti di kota-kota lainnya selalu ada komplek pinggiran –kalo tidak mau menyebut kumuh- yang menjadi dinamika kesenjangan social. Orang menyebutnya Ruli atau rumah liar, arti plesetannya ruli adalah Ruko Liar karena memang suangat banyak ruko kosong di kota ini. Ruli tidak selalu terletak di pinggiran kota, tapi menyebar di semua sudut dan celah kota yang belum tersentuh oleh real estate. Fasilitas serba terbatas di Ruli tidaklah mengusik ketenangan para penghuninya. Dari pada harus bayar sewa rumah, mendingan nempati yang gratis, malah kadang kala ada yang sudah punya rumah disewain pada orang lain dan si empunya rumah memilih tinggal di ruli. 

So, mau tianggal dimanapun kita, pastikan satu hal bahwa nama kita sudah tertera di sertifikat real estate. Kalo di tangan mah lila pisan kata orang sunda, bagaimana tidak?! La wong beli rumahnya ja KPR harus nunggu sepuluh tahun baru sertifikat di tangan. 

AB Subranto

Sabtu, 08 Januari 2011

Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerja Ikhlas

Bekerja menjadi sebuah kebutuhan bagi siapapun orangnya. Disamping aktivitas kerja menjadi sumber penghasilan untuk mencari rizki, dengan bekerja itu pula potensi diri bisa teraktualisasikan. Siapa sih yang gak butuh kerjaan, coba ja baca koran hari ini, sabtu minggu selalu ddi penuhi iklan lowongan kerja. Banyak dari para pencari kerja juga tak pernah lelah mengirim lamaran ke berbagai perusahaan yang mengiklankan kerja. Tak cukup satu atau dua perusahaan yang di lamar, seseorang yang sempat nganggur dalam hitungan bulan bisa mengirim lamaran kerja hingga ke puluhan bahkan ratusan perusahaan.

Begitulah upaya orang mencari kerja, apapun akan di lakukan untuk mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Lowongan PNS akhir tahun kemarin paling banyak di buru para pencari kerja, sampai cara-cara tak halal pun di lakukan demi sebuah titel pegawai negeri yang terjamin masa depannya. Baru mencari kerja aja butuh kerja keras, apalagi ketika sudah bekerja?! Ah tidak juga. Justru ketika sudah bekerja mereka jadi malas. Datang saja ke kantor kelurahan atau kecamatan kalau tak percaya, selalu saja ada keluhan pelayanan publik yang mengecawakan. Mentang-mentang gaji sudah tetap masuk seenaknya, begitu sampai kantor sibuk baca koran masyarakat yang datang pun akhirnya menjadi korban di cuekin.

Apapun pekerjaan anda, motivasi bekerja selalu menjadi kata kunci yang paling menentukan kualitas kerja anda. Dorongan motivasi yang menumbuhkan semangat kerja inilah yang kemudian di sebut kerja keras. Indikasinya adalah produktifitas potensi diri dan waktu yang di ukur dengan capaian target kerja. Seorang pedagang keliling akan di sebut sebagai pekerja keras ketika mampu mengelilingi minimal 5 kampung dari 6 kampung yang ditargetkan. Seorang disigner grafis bisa di katakan bekerja keras ketika ia mampu menyelesaikan 3 desain cover buku yang di tugaskan untuknya, meskipun untuk menyelesaikannya harus rela tidur hingga larut malam. Demikian pula seorang polisi, ia bisa di sebut kerja keras ketika mampu menilang sedikitnya 90 pengendara motor dari 100 surat tilang yang di bawanya.. he..he.. enak ya. 

Jika ukuran kerja keras adalah produktifitas maka tolok ukur kerja cerdas adalah efektifitas waktu dan dan potensi. Di awal pembelajaran saya di bidang desain grafis, saya membutuhkan waktu lebih dari 3 hari untuk menyelesaikan 1 desain kalender. Begitu ada peningkatan ‘kecerdasan’, waktu yang di butuhkan untuk menyelasaikan pekerjaan yang sama hanya beberapa jam saja. Seorang pengusaha pemula membutuhkan waktu satu tahun untuk mencapai omset 1 milyar, namun capain itu bisa di peroleh hanya dalam waktu 1 bulan seiring dengan perkembangan usahanya. Kerja cerdas membutuhkan pembelajaran yang tak pernah ada kata selesai. Kerja cerdas aalah bagai mana kita mampu memperoleh hasil yang maksimal dengan kemampuan yang terbatas. Untuk capaian itu di butuhkan daya ungkit, seperti halnya ketika kita hendak mengganti ban mobil maka dibutuhkan sebuah dongkrak karena tenaga kita tak akan mampu mengangkat. Itu adalah anologi dari fungsi sebuah kerja cerdas cerdas, bahwa daya ungkit yang kita gunakan adalah untuk mengatasi keterbatasan potensi produktifitas kita. Ketika kita buka 1 toko selama 12 jam dengan omset 1 juta per hari, maka untuk bisa mendapatkan omset 10 juta perhari kita butuh 10 toko. Itulah kerja cerdas, karena waktu yang tersedia tidak mungkin di tambah, maka memper banyak toko atau memper besarnya menjadi solusi pencapaian target. 

Yang terakhir adalah kerja ikhlas. Jika kerja keras dan kerja cerdas merupakan bagian dari aktifitas material, maka kerja ikhlas adalah aktifitas ritual. Jika kerja keras tolok ukurnya produktifitas, kerja ikhlas tolok ukurnya spiritualitas. Jika kerja cerdas mencari cara agar pekerjaan lebih efektif, kerja ikhlas mencari cara agar bekerja lebih dinamis. Jika kerja keras dan kerja cerdas tolok ukurnya adalah omset, kerja ikhlas tolok ukurnya adalah hakekat syukur. Bekerja adalah bagian dari aktifitas ibadah, itulah yang harus di ilhami dari pemahaman tentang kerja ikhlas. Tidaklah Allah menilai seseorang dari apa yang dihasilkannya, tapi dari apa yang diusahakannya. Maka tuntutan dari kerja ikhlas adalah rasa syukur dengan memanfaatkan hasil pekerjaan untuk kemaslahatan umum. Ada hak untuk fakir miskin dari rizki yang kita peroleh tanpa melihat seberapa besar perolehan dari hasil kerja kita. Ada keharusan untuk kita selalu ingat pada sang pemberi rizki, saat kita tersibukkan dengan aktifitas kerja.

So, selamat bekerja dan beraktifitas. Semoga barokah Allah selalu bisa kita raih sehingga hidup lebih tenteram.

AB Subranto
www.kakilangit.co.id

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More